Hanyut Ditemukan Tak Sadarkan Diri, Mariska Gadis Kecil ini Ditangani Tim Kesehatan Muhammadiyah

Mariska Gadis Kecil ini Ditangani Tim Kesehatan Muhammadiyah

Pandeglang – LAZISMU. Mariska, ditemukan warga sedang terombang-ambing di pesisir pantai. Gadis kecil ini ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Akhirnya warga yang menyelamatkannya bisa merasakan denyut nadi kembali. Demikian disampaikan salah seorang warga ketika melaporkan temuan ini kepada relawan Muhammadiyah, yang disampaikan oleh Rudy Susanto di posko layanan kesehatan Muhammadiyah. Rudy menambahkan, itu setelah mendapat laporan dari Posko Labuan, relawan Muhammadiyah langsung meluncur ke rumah saudaranya (28/12/2018).

Malang bagi Mariska, ayah dan bundanya tidak terselamatkan, bekas luka benturan di wajah, lengan dan kaki langsung mendapat perawatan tim medis layanan kesehatan Muhammadiyah, dari RSIJ Cempaka Putih.

Nasib sama dialami warga Desa Cigondang, Kampung Pasarlaba. Rahmat (45) rumahnya menjadi hantaman keras gelombang tsunami Selat Sunda. Saat kejadian, posisi Rahmat sedang tiduran. Tiba-tiba air sudah naik setinggi hampir paha orang dewasa dari arah seberang jalan. Semakin kuat dan dekat arus air, kata Rahmat, hampir mencapai 1 meter tingginya, katanya.

“Semua rumah di sekitarnya sudah ke rendam, semua panik. Kami berusaha sekuat-kuatnya lari menyelamatkan diri dari lokasi,” katanya. Sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, kisah Rahmat yang bekerja sehari-hari menarik beca dengan setoran Rp 5 ribu sehari. Beruntung, keenam anak saya selamat semua,” tambahnya.

Bersama para pengungsi yang lain, di Posko Induk ini masih bisa beristirahat karena kami trauma. Di sini juga kleuarga saya memeriksa kesehatan di posko kesehatan Muhammadiyah, kisahnya yang masih merasakan panas dingin. Meski rumah tidak hancur, perabotan rumah tangga semua kerendam, hanyut semua. Atap rumah semua hancur. Karena rumah dari kayu, jelasnya.

Begitu pun yang dilami Rasman (50) dari Kampung Lampe. sebagian rumah di kampungnya hancur. Semua berlarian, banyak anak-anak muda yang sedang camping juga lari tunggang langgang. Batu pembatas yang terbuat dari campuran semen jebol diterjang tsunami. Isteri dan keempat anaknya juga selamat. “Saya dan keluarga lagi tidur ada air masuk kaget, dan langsung lari. Saya tidak tahu dengan keadaan warga yang lain selamat atau tidak,” pungkasnya.

tim Ksehatan Muhammadiyah

Hal senada dialami Ramli (40) yang tinggal di Desa Labuan, tepatnya Teluk Nelayan. Jarak rumah ke pantai kurang lebih 100 meter. Sebelum kejadian, di rumah sedang nonton TV, ada air datang sudah merendam lantai rumah.  Isteri dan ketiga anak saya langsung lari ke tempat aman. Rumah di sekitarnya hancur semua. “Hanya menyisakan baju di badan,” ucapnya. Yang penting saya selamat, semua habis katanya dengan nada sedih. Saya tidak tahu mau ke mana, tidak ada yang tersisa. Ia juga sudah periksa kesehatan karena alami demam.

Cerita yang sama diungkapkan Vina (44), yang tinggal di Desa Ciatel, Labuan. Meski di seberang jalan dan jauh dari bibir pantai, ia diminta untuk mengungsi. Warga semua panik, akhirnya berlarian. “Kita hanya ingat anak dan cucu. Tidak kepikiran barang yang mau dibawa apa,” tandasnya. Ia mengatakan, warga lain di Kampung Karet persis di pinggir pantai tidak tahu nasibnya bagaimana.

Bahkan Budi (53) tidak tahu nasib anaknya yang tinggal di Kampung Lentera. Ia masih beruntung, esok paginya anaknya sudah ketemu. Ia menceritakan anaknya saat itu sedang mancing. Dalam radius 200 meter ia melihat luapan air dan menyelamatkan diri naik pohon kelapa, tuturnya. (na)

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *