Tim Kesehatan Muhammadiyah Temukan 116 Pengungsi Tsunami Selat Sunda Alami Sakit ISPA

Tim Kesehatan Muhammadiyah Temukan 116 Pengungsi Tsunami Selat Sunda Alami Sakit ISPA

Pandeglang – LAZISMU. Bencana alam Tsunami di Selat Sunda yang melanda kawasan Pandeglang, Banten dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12/2018) dalam laporan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) , Sutopo Purwo Nugroho, ada 426 orang dinyatakan meninggal dunia.

Demikian data yang dikeluarkan BNPB pada Jum’at, 28 Desember 2018, pukul 13.00 WIB. Dijelaskan oleh Sutopo, daerah yang terdampak Kecamatan Anyer dan Cinangka Kabupaten Serang tercatat 20 orang meninggal dunia, 247 orang luka-luka, 68 orang hilang dan 40 unit rumah rusak.

Adapun untuk Lampung Selatan daerah terdampak meliputi Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo dan Ketibung. Tercatat oleh BNPB, 116 orang meninggal dunia, 279 orang luka-luka, dan 1.373 orang mengungsi. Semantara terdapat 1 orang meninggal dunia, 1 orang luka-luka, 231 orang mengungsi dan 134 unit rumah rusak di daerah Pesawaran.

Dalam pantau Lazismu di lokasi pengungsian, di Kecamatan Labuan yang bertempat sementara di lapangan futsal Karabohong, yang tak jauh dari kantor kecamatan, ada ratusan orang pengungsi yang didata Kemensos.

Berdasarkan data Posko Kemensos Labuan, yang dilansir dalam kemensos.go.id., (26/12/2012), jumlah pengungsi tercatat sebanyak 806 jiwa. Adapun rinciannya, klaster balita (0-5 tahun) sebanyak 86 jiwa; klaster anak (6-12 tahun) sebanyak 94 jiwa; klaster remaja (13-17 tahun) sebanyak 54 jiwa, dan klaster dewasa (18-49 tahun) sebanyak 491 jiwa, dan klaster lansia (di atas 50 tahun) sebanyak 81 jiwa.

Tim Kesehatan Muhammadiyah Temukan 116 Pengungsi Tsunami Selat Sunda Alami Sakit ISPA

Di Posko Labuan ini pula MDMC dan Lazismu dalam aksi OMOR (One Muhammadiyah One Response) melayani kesehatan para pengungsi yang di mulai pada 23 Desember sampai sakerang. Tim Kesehatan yang diturunkan selain dari RSIJ Pondok Kopi di kawasan Sumur, juga dari RSIJ Cempaka Putih.

Menurut dokter Sylvianti, yang didukung oleh 3 perawat dan 2 orang apoteker, sejak hari pertama membuka pos layanan kesehatan di Posko induk ini, diketahui ada 120 lebih pasien yang telah diperiksa. “Keluhannya adalah batuk, pilek, pusing, gatal-gatal dan pegal-pegal,” katanya. Setelah pemeriksaan berikutnya, diketahui ada 116 pengungsi mengalami gangguan pernafasan.

Bahkan menurut laporan relawan Muhammadiyah, Rudy Susanto yang berada di pos layanan ini, beberapa pengungsi mulai menderita infeksi saluran pernafasan. Kondisi posko yang padat dan pulusi udara yang tercemar memicu gejala ISPA yang dialami beberapa pengungsi, demikian disampaikan Rudy selama bertugas bersama tim kesehatan Muhammadiyah. (na)

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *